Pitutur Jawa


Beberapa pitutur (nasehat) jawa yang sangat berguna bagi kehidupan kita, dirangkum dari halaman aporisma.com :

“Sing bisa mati sajroning urip
lan urip sajroning mati.”
Org dapat pertahankan
kesederhanaan didalam
keadaan kemewahan dan
tabah dalam penderitaan.
“Wong golek kamakmuran iku
ora klebu kadonyan. Sing sapa
ngegungake bandhane, wirang
lamun sirna bandhane”
Org yg cari kesejahteraan itu
bkn terkolong keduniawian.
Barang siapa membanggakan
kekayaan, akan malu jika
kekayaannya hilang.
“Asu gedhe menang kerahe”
Org yg punya wewenang lebih
besar, tentu merasa menang
melawan org yg ‘tak memiliki.
” Aja kaget lan gumunan
samubarang gumelaring
donya ”
Jgn terkejut & heran terhadap
segala hal yang menakjubkan
& terjadi di alam dunia.
” Yen krasa enak uwisa, Yen
krasa ora enak terusna, Yen
ana bapang sumimpanga.”
Hendaknya kita tetap dapat
berlaku hidup prihatin,
sederhana dan mengendalikan
hawa nafsu baik disaat sedih
maupun gembira. Kalau
menjumpai penghalang yg
membahayakan keselamatan
lebih baik menghindar dan
menjauhi.
” Aja golek menange dewe,
Dalan gawat becik
disimpangi.”
Jangan mencari menang
sendiri, Agar tdk tjd hal-2 yg
tdk diinginkan, Janganlah
melibatkan diri dlm
perdebatan dgn org2 yg
berwatak mau menang
sendiri.
” Giri lusi janma tan kena
kinira, kudhi pacul singa
landhepa.”
Org tdk boleh terlalu
mengukur kekuatan org lain,
sebab bagaimanapun
kemampuan org beda-2. Krn
itu bila ada persaingan utk
suatu kedudukan, Hanya yg
berprestasilah yg berhasil
” sekti tanpa aji, menang tan
ngasorake”
Mengalahkan lawan tanpa
membuat lawan merasa
dikalahkan dan tidak
membuat asor(rendah) lawan
baik martabat & harga
dirinya.
“Aja dadi wong kang kuciwa
uripe, Iku dudu wong kang
utama ”
Jangan menjadi orang yg
merasa kecewa dalam hidup,
Sebab itu bukan orang yg arif.
“Ngelmu iku kalakone kanthi
laku”
Bila ingin pandai maka harus
belajar/cari ilmu.
“Jer basuki mawa beya”
Sebuah keberhasilan
seseorang harus diperoleh
dengan pengorbanan.
“Nuladha laku utama”
Mencontoh haruslah pada
perbuatan yang utama dan
yang baik.
“Ngono ya ngono, ning aja
ngono”
Demikian ya demikian, tetapi
jangan demikian. Walaupun
melakukan perbuatan yang
tidak cocok dengan orang
lain, tetapi jangan sampai
menyakiti hati dan
perasaannya.
“Aja Gugu karepe dhewe”
Jangan suka berbuat
seenaknya sendiri
” Kacang mangsa tinggal
lanjaran”
kacang tidang mungkin
meninggalkan jalurnya.
Maksudnya, watak dan
tingkah laku anak biasanya
mirip dengan tingkah laku
orang tua. Ini berarti bahwa
orang tua harus yang baik
kepada anak-anaknya agar
anak-anaknya selalu merasa
nyaman dalam kehidupan
keluarga.
“Kaya mimi lan mintuna”
Seperti sepasang ikan mimi
dan mintuna. Artinya kasih
sayang ayah dan ibu, tidak
bercerai-berai atau tidak
dapat diceraikan dan selalu
rukun. Kasih sayang ibu dan
ayah, dapat digeser ke kasih
sayang adik-kakak, orang tua-
anak dan sebaliknya anak
harus hormat kepada orang
tua dan berbakti agar dalam
keluarga tidak terjadi
pertengkaran.
“Wong bodho dadi pangane
wong pinter”
Orang yang bodoh menjadi
objek rejeki orang yang
pinter. Ungkapan ini
menggambarkan perubahan
dalam idealisme dan cara
pendidikan keluarga yang
berlainan. Dalam keadaan
sekarang generasi muda harus
rajin belajar, menjadi orang
yang pandai untu kesuksesan
hidupnya.
” Jagat ora mung sagodhong
kelor, kareben nggremet
waton slamet” Ungkapan ini
menggambarkan bahwa orang
hendaknya selalu optimis,
dunia tidak hanya selebar
daun kelor, tetapi sangat luas.
Cita cita harus diusahakan
sampai tercapai, tetapi
dengan kesabaran.
“Opor bebek mateng awake
dewe, Nrimo ing pandum”
Ungkapan ini menggambarkan
tentang orang yang mampu
berdiri sendiri dalam
menempuh hidupnya,tidak
ketergantungan dengan orang
lain.
“Ojo kuminter, Ojo kareman,
Ojo ambeg siyo”
Sebuah pitutur yang
menasehati kita agar jangan
sok pandai, jangan suka
berlebihan, dan jangan suka
sewenang-wenang.
“Aja sira mung agawe golek
bandha wae, isa agawe nistha
ing tembe mburi”
Sebuah pitutur yang
menasehati kita agar jangan
hanya mencari kekayaan saja,
karena itu akan menjadi
kehinaan dikemudian hari.
“Kudu angon wektu, tumindak
kudu manut kala mangsa”
Sebuah pitutur yang
menasehati kita agar selalu
memperhatikan waktu dan
tempat dengan baik, karena
setiap tindakan perlu selalu
mempertimbangkan suasana
dan sikonnya

Posted on 10 Agustus 2011, in Budaya, Kawruh jawa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: