Lebaran dan Pakaian baru.. Oh celanaku.


sbob
Tak terasa ramadhan telah beberapa hari kita lewati, puasa sudah tidak seperti hari-hari pertama, yang kebanyakan mengeluhkan lemas tak bertenaga, kini setelah satu minggu rasanya seperti hari biasa saja. Tapi tetap saja kolak dan es buah masih jadi primadona buka puasa.
Disini saya tidak akan menulis soal menu yang berhubungan dengan buka puasa, tetapi saya lebih tertarik membahas hiruk pikuknya masyarakat menghadapi lebaran.
Ya..memang ramadhan sangat erat kaitannya dengan lebaran atau idul fitri, terutama secara tradisi.
Dan tradisi masyarakat di negeri kita dalam menyambut idul fitri (kebanyakan) adalah membeli atau menyiapkan pakaian baru.
Dan kenyataannya hiruk pikuk masyarakat dalam menghadapi lebaran, khususnya membeli pakaian baru tsb, sudah mulai terasa di awal ramadhan bahkan menjelang puasa pun sudah banyak toko atau mall yang menggelar promosi discount besar-besaran.
Saya pun termasuk orang yang secara tak sengaja terseret dalam hiruk pikuk itu (ya maklum demi menanggapi usulan sang istri tercinta).
Suatu suaat (dengan gaya asmuni alm) saya menemani istri belanja (bukan borong lho) ke suatu toko pakaian yang gak terkenal, maklum disesuaikan dengan isi kantong.
Waktu saya dan istri masuk ke Toko pakaian yang lumayan luas itu, ternyata sudah begitu banyak orang yang berburu pakaian, terus terang saya sendiri paling males kalau pergi ke toko atau mall, paling kalau butuh baju atau celana saya lebih suka nitip sama istri.
Yang bikin kaget saya bukannya berjubelnya orang yg belanja pakaian (padahal THR belum keluar lho), tetapi soal ‘harganya’ yang membuat saya berdecak kagum (saya bener2 narsis n ndeso ya?). Kayaknya hasil kristalisasi keringat saya kok cuma seharga celana kolor (hehe..). Yang membuat saya lebih shock lagi, itu harga pakaian anak muahaalnya itu lho.
Weleh-weleh.. harga celana anak umur 2 tahun kok 2x lipat dari celana yang niatnya mau saya beli? (Baru tahu saya, maklum). Apanya yang bikin mahal ya? Pikir saya tak habis-habis. Lha wong ukurannya paling 1/4 dari pakaian dewasa, bahannya juga kayaknya gak lebih bagus.
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil dikasih senyuman sinis dari sang istri (hemh..baru tau ya?!).
Akhirnya setelah beberapa saat mutar muter, kami pun pulang dengan beberapa setel pakaian buat anak dan ponakan serta buat istri dan Alhamdulillah saya gak kebagian jatah, celana yang tadi saya incer terpaksa saya ‘titipkan’ lagi di toko itu (nasib..nasib).

Posted on 10 Agustus 2011, in Umum and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: