Cara puasa bagi yang tinggal ditempat yang waktu siang/malam lebih panjang/pendek


Apa yang diperbuat orang-
orang yang waktu siang
mereka panjangnya sampai
dua puluh satu jam, apakah
mereka mengira-ngira puasa
mereka? Dan apa yang
diperbuat mereka jika waktu
siangnya pendek sekali?
Demikian pula apa yang harus
dilakukan jika waktu siang
berlangsung terus menerus
sampai enam bulan, dan
waktu malam juga
berlangsung terus menerus
sampai enam bulan?
Jawaban Asy-Syaikh Abdul Aziz
bin Baaz Rahimahullah
Siapa pun yang memiliki
malam dan siang dalam
lingkup dua puluh empat jam,
mereka tetap berpuasa di
siang itu, baik siangnya
pendek atau panjang, dan
puasa mereka tetap sah,
meski siang mereka sangat
pendek.Tetapi barangsiapa
yang waktu siang dan
malamnya lebih panjang dari
di atas, seperti enam bulan
misalnya, maka mereka harus
mengira-ngira untuk berpuasa
dan mengerjakan shalat.
Seperti yang diperintahkan
nabi pada hari Dajjal yang
seperti satu tahun, demikian
pula pada hari yang seperti
satu bulan dan satu minggu,
maka shalat juga dikira-kira
pada hari-hari tersebut.
Dalam masalah ini majlis para
ulama di Saudi Arabia telah
mengeluarkan sebuah
keputusan, yaitu no: 61
tanggal 12-4-1398 H yang
berbunyi,
Segala puji bagi Allah dan
shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada
rasulullah, keluarga dan para
sahabat, wa ba`du:
Pada daurah (seminar) yang
kedua belas di kota Riyadh,
tepatnya pada hari-hari awal
di bulan Rabiul Akhir tahun
1398 H, Majlis Hai`ah Kibar
Ulama` (Dewan Himpunanr
para ulama` senior) disuguhi
surat dari Ketua Umum
Rabitah alam islami di Makkah
Al-Mukarramah no: 555
tanggal: 16-1-1398 H, yang
isinya berkenaan dengan surat
dari ketua organisasi islam di
Kota Malu, Swedia.Ia
memberitahukan bahwa
negara Skandinavia, pada
musim panas, waktu siangnya
menjadi sangat panjang,
sedangkan musim dingin,
waktu siangnya menjadi
sangat pendek, karena letak
geografis daerah tersebut.
Demikian pula pada bagian
utara daerah itu, matahari tak
pernah tenggelam di musim
panas. Kebalikannya, saat
musim dingin matahari selalu
terbenam. Kaum muslimin di
daerah tersebut bertanya
bagaimana cara berbuka dan
kapan dimulai berpuasa di
bulan ramadhan. Dan
bagaimana cara menentukan
waktu-waktu shalat di negara
tersebut. Ketua organisasi itu
mengharap kepada ketua
Umum rabitah untuk
memberikan fatwa dalam hal
ini.
Setelah mempelajari dan
menelitih dengan seksama,
majlis pun memberi keputusan
sebagai berikut:
Pertama: Barangsiapa tinggal
di negara yang malamnya bisa
dibedakan dari siang dengan
terbitnya fajar dan
tenggelamnya matahari,
hanya saja waktu siangnya
sangat panjang saat musim
panas dan sangat pendek saat
musim dingin,maka wajib
baginya mengerjakan shalat
lima waktu tepat pada
waktunya yang telah
ditentukan.Karena
keumuman firman Allah yang
berbunyi,
“Dirikanlah shalat sesudah
matahari tergelincir sampai
gelap malam dan dirikan pula
shalat subuh. Sesungguhnya
shalat subuh itu disaksikan
oleh malaikat.” (QS. Al-Isra`:
78)
Juga firman-Nya,
“Sesungguhnya shalat itu
adalah kewajiban yang
ditentukan waktunya atas
orang-orang yang
beriman.” (QS: An-Nisa`: 103)
Juga karena ada sebuah hadits
sahih dari Buraidah, dari Nabi
Shallallahu `alaihi wa Sallam,
(( ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ِﺖْﻗَﻭ ْﻦَﻋ ُﻪَﻟَﺄَﺳ ﺎًﻠُﺟَﺭ َّﻥَﺃ،َﻝﺎَﻘَﻓ
ُﻪَﻟ:ِﻦْﻴَﻣْﻮَﻴْﻟﺍ ﻲِﻨْﻌَﻳ ِﻦْﻳَﺬَﻫ ﺎَﻨَﻌَﻣ ِّﻞَﺻ،
َﻥَّﺫَﺄَﻓ ﺎًﻟﺎَﻠِﺑ َﺮَﻣَﺃ ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ ِﺖَﻟﺍَﺯ ﺎَّﻤَﻠَﻓ،َّﻢُﺛ
َﺮْﻬُّﻈﻟﺍ َﻡﺎَﻗَﺄَﻓ ُﻩَﺮَﻣَﺃ،َﺮْﺼَﻌْﻟﺍ َﻡﺎَﻗَﺄَﻓ ُﻩَﺮَﻣَﺃ َّﻢُﺛ
ٌﺔَّﻴِﻘَﻧ ُﺀﺎَﻀْﻴَﺑ ٌﺔَﻌِﻔَﺗْﺮُﻣ ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍَﻭ،ُﻩَﺮَﻣَﺃ َّﻢُﺛ
ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ ِﺖَﺑﺎَﻏ َﻦﻴِﺣ َﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍ َﻡﺎَﻗَﺄَﻓ،َّﻢُﺛ
ُﻖَﻔَّﺸﻟﺍ َﺏﺎَﻏ َﻦﻴِﺣ َﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ َﻡﺎَﻗَﺄَﻓ ُﻩَﺮَﻣَﺃ،َّﻢُﺛ
ُﺮْﺠَﻔْﻟﺍ َﻊَﻠَﻃ َﻦﻴِﺣ َﺮْﺠَﻔْﻟﺍ َﻡﺎَﻗَﺄَﻓ ُﻩَﺮَﻣَﺃ،
َﺩَﺮْﺑَﺄَﻓ ُﻩَﺮَﻣَﺃ ﻲِﻧﺎَّﺜﻟﺍ ُﻡْﻮَﻴْﻟﺍ َﻥﺎَﻛ ْﻥَﺃ ﺎَّﻤَﻠَﻓ
ِﺮْﻬُّﻈﻟﺎِﺑ،ﺎَﻬِﺑ َﺩِﺮْﺒُﻳ ْﻥَﺃ َﻢَﻌْﻧَﺄَﻓ،ﻰَّﻠَﺻَﻭ
َﻕْﻮَﻓ ﺎَﻫَﺮَّﺧَﺃ ٌﺔَﻌِﻔَﺗْﺮُﻣ ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍَﻭ َﺮْﺼَﻌْﻟﺍ
َﻥﺎَﻛ ﻱِﺬَّﻟﺍ،ْﻥَﺃ َﻞْﺒَﻗ َﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻَﻭ
ُﻖَﻔَّﺸﻟﺍ َﺐﻴِﻐَﻳ،ﺎَﻣَﺪْﻌَﺑ َﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻَﻭ
ِﻞْﻴَّﻠﻟﺍ ُﺚُﻠُﺛ َﺐَﻫَﺫ،َﺮَﻔْﺳَﺄَﻓ َﺮْﺠَﻔْﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻَﻭ
َﻝﺎَﻗ َّﻢُﺛ ﺎَﻬِﺑ:ِﺖْﻗَﻭ ْﻦَﻋ ُﻞِﺋﺎَّﺴﻟﺍ َﻦْﻳَﺃ
ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻝﺎَﻘَﻓ ؟ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ:َﻝﻮُﺳَﺭ ﺎَﻳ ﺎَﻧَﺃ
ِﻪَّﻠﻟﺍ،َﻝﺎَﻗ:ْﻢُﺘْﻳَﺃَﺭ ﺎَﻣ َﻦْﻴَﺑ ْﻢُﻜِﺗﺎَﻠَﺻ ُﺖْﻗَﻭ((
)ﻢﻠﺴﻣﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ )
“Bahwa seorang lelaki
bertanya kepada beliau
tentang waktu shalat, maka
beliau menjawab, “Kerjakan
shalat bersama kami dalam
dua hari ini.”
Maka, ketika matahari
tergelincir, beliau menyuruh
Bilal mengumandangkan
adzan, kemudian
memerintahnya untuk
mendirikan shalat dhuhur.
Lalu rasulullah menyuruhnya
kembali untuk mendirikan
shalat ashar, yang saat itu
matahari sangat tinggi, putih
dan masih terang. Tak lama
kemudian, Rasulullah
menyuruhnya untuk
mendirikan shalat Maghrib
ketika terbenam matahari.
Kemudian beliau
menyuruhnya mendirikan
shalat isya` ketika awan-awan
merah di langit menghilang.
Lalu menyuruhnya mendirikan
shalat subuh saat datang
fajar.
Ketika datang hari kedua,
beliau menyuruh Bilal
mengerjakan shalat dhuhur
saat hari dingin. Lalu shalat
ashar saat matahari tinggi,
beliau mengakhirkan shalat
ashar ini dari yang kemarin.
Kemudian mengerjakan shalat
maghrib sebelum awan merah
di langit menghilang. Lalu
mengerjakan shalat isya`
setelah hilang sepertiga
malam, dan mengerjakan
shalat subuh, saat hari benar-
benar telah terang.
Lalu beliau bertanya, “Mana
orang yang bertanya tentang
waktu shalat?” lelaki itu
menjawab, “Saya wahai
rasulullah.” Kemudian beliau
bersabda, “Waktu shalat
kalian adalah diantara (dua
waktu) yang telah kalian
lihat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam hadits lain,
ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ َّﻥَﺃ ﻭٍﺮْﻤَﻋ ِﻦْﺑﺍ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ
َﻝﺎَﻗ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ)) :ُﺖْﻗَﻭ
ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ ِﺖَﻟﺍَﺯ ﺍَﺫِﺇ ِﺮْﻬُّﻈﻟﺍ،ُّﻞِﻇ َﻥﺎَﻛَﻭ
ُﺮْﺼَﻌْﻟﺍ ِﺮُﻀْﺤَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﻪِﻟﻮُﻄَﻛ ِﻞُﺟَّﺮﻟﺍ،
ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ َّﺮَﻔْﺼَﺗ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﺮْﺼَﻌْﻟﺍ ُﺖْﻗَﻭَﻭ،
ُﻖَﻔَّﺸﻟﺍ ِﺐِﻐَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﺏِﺮْﻐَﻤْﻟﺍ ِﺓﺎَﻠَﺻ ُﺖْﻗَﻭَﻭ،
ِﻞْﻴَّﻠﻟﺍ ِﻒْﺼِﻧ ﻰَﻟِﺇ ِﺀﺎَﺸِﻌْﻟﺍ ِﺓﺎَﻠَﺻ ُﺖْﻗَﻭَﻭ
ِﻂَﺳْﻭَﺄْﻟﺍ،ِﻉﻮُﻠُﻃ ْﻦِﻣ ِﺢْﺒُّﺼﻟﺍ ِﺓﺎَﻠَﺻ ُﺖْﻗَﻭَﻭ
ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ ِﻊُﻠْﻄَﺗ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﺮْﺠَﻔْﻟﺍ،ِﺖَﻌَﻠَﻃ ﺍَﺫِﺈَﻓ
ُﺲْﻤَّﺸﻟﺍ،ُﻊُﻠْﻄَﺗ ﺎَﻬَّﻧِﺈَﻓ ِﺓﺎَﻠَّﺼﻟﺍ ِﻦَﻋ ْﻚِﺴْﻣَﺄَﻓ
ٍﻥﺎَﻄْﻴَﺷ ْﻲَﻧْﺮَﻗ َﻦْﻴَﺑ) ((ﻲﻓ ﻢﻠﺴﻣ ﻪﺟﺮﺧﺃ
ﻪﺤﻴﺤﺻ)
“Dari Abdullah bin Amru bin
Ash, sesungguhnya nabi
Shallallahu `alaihi wa Sallam
bersabda, “Waktu dhuhur
dimulai saat matahari
tergelincir, yang saat itu
bayang-bayang seseorang
seperti panjang tubuhnya
selama waktu ashar belum
datang. Waktu ashar ketika
matahari belum menguning.
Waktu shalat maghrib
sebelum awan-awan merah
menghilang. Waktu shalat
isya` sampai pertengahan
malam. Dan waktu shalat
subuh dimulai sejak terbitnya
fajar selama matahari belum
terbit. Jika matahari telah
terbit, maka jangan
mengerjakan shalat, karena ia
terbit di antara dua tanduk
syetan”.” (HR. Muslim)
Juga hadits-hadits lain yang
menyebutkan ketentuan
waktu shalat, baik dalam
bentuk ucapan dan perbuatan.
Hadits-hadits yang ada itu,
tidak membedakan antara
panjang dan pendeknya siang.
Juga tidak membedakan
panjang dan pendeknya
malam, selama waktu-waktu
shalat bisa dibedakan dengan
tanda-tanda yang diterangkan
rasulullah Shallallahu `alaihi
wa Sallam. Ini jawaban yang
berkenaan dengan penentuan
waktu shalat mereka.
Adapun yang berkenaan
dengan penentuan waktu
puasa di bulan ramadhan,
maka setiap mukallaf dari
mereka, harus berhenti
makan, minum, dan
meninggalkan segala hal yang
membatalkan puasa dalam
setiap harinya, dimulai dari
terbit fajar sampai matahari
terbenam di negara mereka,
selama waktu siang bisa
dibedakan dari waktu malam,
dan keseluruhan waktunya
adalah dua puluh empat jam.
Dan dihalalkan bagi mereka
makan, minum, bersetubuh
dan yang lainnya, pada malam
hari saja, meski waktunya
sangat pendek. Karena syariat
Islam umum bagi semua
manusia di seluruh negara.
Allah berfirman,
“Makan dan minumlah hingga
terang bagimu benang putih
dari benang hitam, yaitu
waktu fajar. Kemudian
sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam.” (QS.
Al-Baqarah: 187)
Barangsiapa tidak mampu
menyempurnakan puasa
sehari penuh karena waktunya
yang sangat panjang, atau
mengetahui dengan tanda,
penelitihan, atau kabar dari
seorang dokter ahli yang bisa
dipercaya, atau berkeyakinan
penuh bahwa berpuasa akan
membinasakannya, atau bakal
menderita penyakit sangat
parah, atau menyebabkan
lambatnya kesembuhan
dirinya, atau penyakitnya
bertambah parah, maka dia
harus berbuka, dan
mengqadha` hari-hari yang ia
berbuka di hari-hari itu pada
bulan lainnya yang ia mampu
melakukannya. Allah
berfirman,
“Karena itu, barangsiapa di
antara kamu hadir (di negeri
tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu.
Barangsiapa sakit atau dalam
perjalanan (lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya
berpuasa), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-
hari yang lain.” (QS. Al-
Baqarah: 185)
Allah juga berfirman,
“Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai
dengan
kesanggupannya.” (QS. Al-
Baqarah: 286)
Juga firman-Nya,
“Dia sekali-kali tidak
menjadikan untuk kamu
dalam agama suatu
kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)
Kedua: Barangsiapa tinggal di
negara yang matahari sama
sekali tidak terbenam selama
musim panas, dan tidak
muncul sama sekali di musim
dingin, atau berada di negara
yang siangnya terus menerus
selama enam bulan, atau
malamnya terus menerus
selama enam bulan pula,
maka wajib atas mereka
untuk mengerjakan shalat
lima waktu dalam setiap dua
puluh empat jam. Yaitu
dengan mengkira-kirakan
waktu dan menentukannya
sesuai negara terdekat, yang
disitu waktu shalat bisa
dibedakan antara yang satu
dengan yang lain. Hal ini
sesuai hadits Isra` mi`raj,
bahwasanya Allah Subhaanahu
wa Ta`ala mewajibkan atas
umat ini lima puluh kali shalat
dalam sehari semalam, tetapi
nabi Muhammad Shallallahu
`alaihi wa Sallam senantiasa
memohon keringanan kepada-
Nya, sampai Dia Berfirman,
(( ُﺪَّﻤَﺤُﻣ َﺎﻳ،َّﻞُﻛ ٍﺕﺍَﻮَﻠَﺻ ُﺲْﻤَﺧ َّﻦُﻬَّﻧِﺇ
ٍﺔَﻠْﻴَﻟَﻭ ٍﻡْﻮَﻳ،َﻚِﻟَﺬَﻓ ٌﺮْﺸَﻋ ٍﺓَﻼَﺻ ِّﻞُﻜِﻟ
ًﺓَﻼَﺻ َﻥْﻮُﺴْﻤَﺧ))
“Wahai Muhammad!
Sesungguhnya kewajiban itu
adalah lima kali shalat dalam
sehari semalam. Bagi setiap
shalat ada sepuluh pahala,
maka semuanya menjadi lima
puluh kali shalat.”
Juga sesuai dengan hadits
Talhah bin Ubaidillah ia
berkata,
((ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻝْﻮُﺳَﺭ ﻰَﻟِﺇ ٌﻞُﺟَﺭ َﺀﺎَﺟ
ِﺱْﺃَّﺮﻟﺍ َﺮِﺋﺎَﺛ ٍﺪـْﺠَﻧ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ،
ُﻝْﻮُﻘَﻳ ﺎَﻣ ُﻪَﻘْﻔَﻧ َﻻَﻭ ِﻪِﺗْﻮَﺻ َّﻱِﻭَﺩ ُﻊَﻤْﺴَﻧ،
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻝْﻮُﺳَﺭ ْﻦِﻣ َﺎﻧَﺩ ﻰَّﺘَﺣ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ،ِﻡَﻼْﺳِﻹْﺍ ِﻦَﻋ ُﻝَﺄْﺴَﻳ َﻮُﻫ َﺍﺫِﺈَﻓ،َﻝَﺎﻘَﻓ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ ُﻝْﻮُﺳَﺭ:ُﺲْﻤَﺧ
ِﺔَﻠْﻴَّﻠﻟﺍَﻭ ِﻡْﻮَﻴﻟْﺍ ﻲِﻓ ٍﺕﺍَﻮَﻠَﺻ،َﻝﺎَﻘَﻓ:ْﻞَﻫ
َﻝَﺎﻗ ؟َّﻦُﻫُﺮْﻴَﻏ َّﻲَﻠَﻋ:َﻻ،َﻉَﻮَّﻄَﺗ ْﻥَﺃ َّﻻِﺇ …))
“Datang seorang lelaki dari
penduduk Najed kepada
rasulullah dengan kepala yang
awut-awutan. Kami
mendengar sedikit suaranya
tapi tak bisa memahami apa
yang dikatakannya. Sampai ia
mendekat kepada rasulullah.
Rupanya ia bertanya tentang
islam. Maka rasulullah
menjawab, “Lima kali shalat
dalam sehari semalam.”
Lelaki itu bertanya, apakah
ada kewajiban lain bagiku
selain shalat lima kali itu?
Beliau menjawab, “tidak,
kecuali jika kamu
mengerjakannya secara
tathowwu`”.”
Juga sesuai dengan hadits
Anas bin Malik, ia berkata,
((ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ َﻝْﻮُﺳَﺭ َﻝَﺄْﺴَﻧ ْﻥَﺃ َﺎﻨْﻴِﻬُﻧ
ٍﺀْﻲَﺷ ْﻦَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ،ْﻥَﺃ َﺎﻨُﺒِﺠْﻌُﻳ َﻥَﺎﻜَﻓ
ُﻞِﻗﺎَﻌْﻟﺍ ِﺔَﻳِﺩَﺎﺒْﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﺀْﻲِﺠَﻳ
ْﻦِﻣ ٌﻞُﺟَﺭ َﺀَﺎﺠَﻓ ُﻊَﻤْﺴَﻧ ُﻦْﺤَﻧَﻭ ُﻪُﻟَﺄْﺴَﻴَﻓ
َﻝَﺎﻘَﻓ ِﺔَﻳِﺩَﺎﺒْﻟﺍ ِﻞْﻫَﺃ:ُﺪَّﻤَﺤُﻣ َﺎﻳ!َﺎﻧَﺎﺗَﺃ
َﻚُﻟْﻮُﺳَﺭ،َﻪﻠﻟﺍ َّﻥَﺃ ُﻢُﻋْﺰَﺗ َﻚَّﻧَﺃ َﻢَﻋَﺰَﻓ
َﻚَﻠَﺳْﺭَﺃ.َﻝﺎَﻗ:َﻕَﺪَﺻ،َﻝَﺎﻗ ْﻥَﺃ ﻰَﻟِﺇ:َﻢَﻋَﺯَﻭ
ْﻲِﻓ ٍﺕﺍَﻮَﻠَﺻ ُﺲْﻤَﺧ ﺎَﻨْﻴَﻠَﻋ َّﻥَﺃ َﻚُﻟْﻮُﺳَﺭ
َﺎﻨِﺘَﻠْﻴَﻟَﻭ َﺎﻨِﻣْﻮَﻳ.َﻝَﺎﻗ:َﻕَﺪَﺻ،َﻝﺎَﻗ:ْﻱِﺬَّﻟﺎِﺒَﻓ
َﻚَﻠَﺳْﺭَﺃ،َﻝﺎَﻗ ؟ﺍَﺬَﻬِﺑ َﻙَﺮَﻣَﺃ ُﻪﻠﻟﺁ:ْﻢَﻌَﻧ …))
“Kami dilarang bertanya
kepada rasulullah karena
suatu hal. Sehinggga kami
sangat berharap jika ada
seorang lelaki dari penduduk
kampung (baduwi) yang
cerdas dan bertanya kepada
beliau. Sehingga kami bisa
mendengar apa yang
ditanyakannya. Maka
datanglah seorang lelaki dari
penduduk kampung, ia
bertanya, “Wahai Muhammad!
Telah datang kepada kami
utusan kamu, ia mengatakan
bahwa Allah-lah yang
mengutusmu.” Nabi
menjawab, “Benar!” sampai ia
berkata, “Utusanmu
mengatakan bahwa kami
wajib mengerjakan lima kali
shalat dalam sehari
semalam.” Nabi menjawab,
“Benar!” kemudian lelaki itu
berkata, “Demi Dzat Yang
mengutusmu! Apakah Allah
yang menyuruhmu dengan
semua ini?” beliau menjawab,
“benar”.”
Juga disebutkan dalam sebuah
hadits,
((َﺙَّﺪَﺣ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ
ِﻝَّﺎﺟَّﺪﻟﺍ ِﻦَﻋ ُﻪَﺑﺎَﺤْﺻَﺃ،ﺍْﻮُﻟَﺎﻘَﻓ:ُﻪُﺜْﺒُﻟ ﺎَﻣ
َﻝﺎَﻗ ؟ِﺽْﺭَﻷْﺍ ﻲِﻓ:ٍﺎﻣْﻮَﻳ َﻥْﻮُﻌَﺑْﺭَﺃ،ٌﻡْﻮَﻳ
ٍﺔَﻨَﺴَﻛ،ٍﺮْﻬَﺸَﻛ ٌﻡْﻮَﻳَﻭ،ٍﺔَﻌُﻤُﺠَﻛ ٌﻡْﻮَﻳَﻭ،
ْﻢُﻜِﻣﺎَّﻳَﺄَﻛ ِﻪِﻣَّﺎﻳَﺃ ُﺮِﺋﺎَﺳَﻭ،َﻞْﻴِﻘَﻓ:َﻝْﻮُﺳَﺭ َﺎﻳ
ِﻪﻠﻟﺍ!ٍﺔَﻨَﺴَﻛ ْﻱِﺬَّﻟﺍ ُﻡْﻮَﻴْﻟَﺍ،ِﻪْﻴِﻓ َﺎﻨْﻴِﻔْﻜَﻳَﺃ
َﻝﺎَﻗ ؟ٍﻡْﻮَﻳ ُﺓَﻼَﺻ:َﻻ،ُﻩَﺭْﺪَﻗ ُﻪَﻟ ﺍْﻭُﺭِﺪْﻗَﺃ ))
“Bahwa nabi Shallallahu
`alaihi wa Sallam bercerita
kepada para sahabat tentang
dajjal. Lalu mereka bertanya,
“Berapa lama ia tinggal di
bumi?” Nabi menjawab,
“Empat puluh hari, satu hari
seperti setahun, hari kedua
seperti satu bulan, hari ketiga
seperti satu jum`at (satu
minggu), kemudian hari-hari
berikutnya seperti hari-hari
yang ada pada kalian.” Lalu
seseorang bertanya, “Wahai
rasulullah! Mengenai hari
yang seperti setahun, apakah
kita cukup mengerjakan
shalat sehari saja?” Beliau
menjawab, “Tidak! Tapi
perkirakan hari itu.”
Pada hadits ini, rasulullah
tidak menganggap satu hari
yang seperti setahun sebagai
satu hari, yang cukup
mengerjakan shalat lima kali
saja pada hari itu. Tapi beliau
mewajibkan pada hari yang
seperti setahun itu, shalat
lima waktu setiap dua puluh
empat jam. Beliau
memerintah para sahabat
untuk meletakkan shalat-
shalat itu pada masing-masing
waktunya, sesuai dengan jarak
antara waktu shalat yang satu
dengan waktu shalat lainnya
pada hari-hari biasa di negeri
mereka.
Jadi! Wajib bagi kaum
muslimin yang menetap dalam
negeri yang ditanyakan dalam
pertanyaan ini, untuk
menentukan waktu-waktu
shalat sesuai dengan negara
terdekat, yang disitu bisa
dibedakan antara malam
dengan siang, juga bisa
diketahui dengan jelas semua
waktu shalat yang lima
dengan tanda-tanda syar`inya
pada setiap dua puluh empat
jam.
Mereka juga wajib berpuasa
ramadhan dan mengkira-
kirakan puasa mereka, yaitu
dengan menentukan
permulaan bulan ramadhan
dan akhirannya. Memulai
imsak, juga waktu berbuka
pada setiap hari di negeri
tersebut sesuai permulaan
bulan dan akhirannya. Sesuai
dengan terbitnya fajar dan
terbenamnya matahari dalam
setiap harinya menurut
negara terdekat, yang disitu
malam dan siang bisa
dibedakan. Sehingga semua
waktu itu berjumlah dua puluh
empat jam, sebagaimana
dijelaskan nabi Shallallahu
`alaihi wa Sallam dalam
hadits Dajjal, juga sesuai
petunjuk beliau kepada para
sahabat, mengenai cara
menentukan waktu shalat
dalam hari-hari Dajjal itu,
karena tidak ada perbedaan
antara puasa dan shalat.
Semoga Allah memberi taufiq
kepada kita semua, dan
shalawat serta salam
senantiasa tercurahkan
kepada junjungan kita nabi
Muhammad Shallallahu
`alaihi wa Sallam dan para
sahabat… (Dewan pembesar
para ulama`).
Sumber :
ُﻖَّﻠَﻌَﺘَﺗ ٍﺔَّﻤِﻬُﻣ ٍﺔَﺑِﻮْﺟَﺄِﺑ ِﻥﺍَﻮْﺧِﻹْﺍ ُﺔَﻔـْﺤُﺗ
ِﻡَﻼْﺳِﻹْﺍ ِﻥَﺎﻛْﺭَﺄِﺑ
(Tuhfatul Ikhwaan Bi Ajwibatin
Muhimmatin Tata`allaqu Bi
Arkaan Al-Islam)
Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin
Abdullah bin Baaz
Rahimahullah
Daar Thaibah, Riyadh, Cet. 1,
1421 H/2000 M

Posted on 4 Agustus 2011, in Khasanah Islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: